![]() |
| Miniatur Barongsai yang dijual pedagang di kawasan Jalan Gajah Mada, Kota Pontianak, Minggu 4 Februari 2024. Cap Go Meh 2024 di Pontianak ditiadakan. (Reka Revani Vanda Hutapea) |
Penulis: Syahriani Siregar dan Ridho Panji Pradana
PONTIANAK - Perayaan Tahun Baru Imlek tahun 2024 sudah dipastikan tidak ada Festival Cap Go Meh.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan tahun ini akan sepi dari pertujukan Naga dan dan Barongsai.
Penjabat (Pj) Wali Kota Pontianak, Ani Sofian mengatakan perayaan Imlek dan Cap Go Meh khusus pada Pemilu yang diselenggarakan tahun ini, pihaknya membatasi berbagai kegiatan perayaan yang mengundang keramaian.
“Tidak ada perayaan, mereka sangat menghargai pelaksanaan Pemilu. Tidak ada pesta barongsai dan naga. Jadi mereka tetap melakukan perayaan tapi tidak membuat kegiatan yang mengundang masyarakat untuk berkumpul,” ujar Ani Sofian, dilansir dari Pontianak Post pada 23 Januari 2024.
Ia mengatakan hal tersebut sudah berkomunikasi dengan Masyarakat Adat Budaya Tionghoa (MABT) dan juga aparat kepolisian.
Terpisah, Hendri Pangestu Lim, Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Pontianak mengatakan alasan ditiadakannya naga dan barongsai karena perayaan tersebut serentak dengan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
"Kita tiadakan untuk tahun ini saja, karena berkaitan dengan Pemilu, kita tahu Pemilu akan digelar pada 14 Februari 2024 nanti, lalu tidak lama Cap Go Meh pada tanggal 24 Februari, selisih 10 hari," ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Minggu 4 Februari 2024.
Setelah pencoblosan, ia mengatakan akan memasuki masa penghitungan suara, dan pada masa itu berbagai pihak mulai dari anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Polisi, TNI serta berbagai pihak lainnya.
Lebih lanjut, Hendri mengungkap Pemerintah Kota Pontianak maupun kepolisian tidak pernah melarang arak-arakan naga dan barongsai, namun karena kesadaran pihaknya dimana para petugas keamanan menjalani tugas yang berat pada masa pemilihan umum, maka diputuskanlah arak-arakan Naga dan barongsai ditiadakan.
Ditiadakannya Festival Cap Go Meh tahun ini juga dirasakan oleh Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Kalbar yang rutin tampil dan menghasilkan bibit-bibit pemain Barongsai.
Sugioto, Ketua FOBI Kalbar mengatakan bahwa pesta demokrasi ini adanya hanya lima tahun sekali, jadi pihaknya harus menyukseskan Pemilu ini dengan damai, aman dan sukses.
“Ini harus kita prioritaskan demi kehidupan berbangsa dan bernegara untuk kemajuan Indonesia ke depan,” ujar Sugioto.
Khusus Imlek dan Cap Go Meh tahun ini, pihaknya tidak mengadakan kegiatan khusus.
“Kami hanya akan melakukan atraksi ritual-ritual sembahyang di tempat-tempat ibadah (kelenteng) dalam menyambut tahun baru Imlek,” ujar Sugioto.
![]() |
| Penampakan lampion disebuah toko yang menjual pernak-pernik di Kota Pontianak, Minggu 4 Februari 2024. (Reka Revani Vanda Hutapea) |
Selain itu, Sugioto juga menjelaskan bahwa pada Imlek dan Cap Go Meh nanti FOBI Kalbar hanya akan bersilaturahmi ke rumah-rumah Pengprov FOBI Kalbar dan warga Tionghoa yang mengharapkan kehadiran Barongsai.
“FOBI telah memberikan peringatan keras terhadap semua sasana Barongsai maupun
insan Barongsai FOBI di dalam melakukan kegiatan atraksi tidak ada
atribut-atribut partai dan caleg,
artinya semua murni ritual dan atraksi saja,” lanjutnya.
Meski penampilan Cap Go Meh sangat ditunggu oleh anggota FOBI unutk tampil didepan masyarakat umum namun FOBI Kalbar sangat menghormati anjuran ari pemerintah unutk meniadakan festival tersebut.
“Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh tentu agak berbeda, karena hari raya tentu ada unsul-unsuk ritual khusus yang dilakukan, yang mana dalam ritual tersebut mengundang masyarakat ramai yang diadakan setahum sekali saja. Ini lah yg biasa ditunggu masyarakat, baik itu daerah, nasional maupun internasional,” tutupnya.
Sebagai masyarakat Tionghoa di Kota Pontianak, Sim Tjin An legowo Cap Go Meh ditiadakan pada tahun 2024 ini.
Hal
ini karena pelaksanaan Cap Go Meh yang memang mendekati pelaksanaan Pemilu.
Pria asal Pal Lima Pontianak yang kerap
disapa Aan ini mengakui sebagai warga negara yang baik mengikuti apa yang
diputuskan pemerintah.
"Tidak ada Cap Go Meh tidak ada masalah karena ikut apa kata
pemerintah," ujarnya saat ditemui di Kleteng Tri Dharma kawasan Pusat
Perbelanjaan Kapuas Indah, Jl. Kapten Marsan, Darat Sekip, Pontianak Kota,
Pontianak.
Festival Cap Go Meh biasanya dipusatkan di Jalan Diponegoro, dengan adanya
festival yang mengundang keramaian tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap
warga yang memiliki usaha di area sekitar.
Salah satunya Bell Cafe yang terletak di persimpangan Jalan Diponegoro dan Jalan Tanjung Pura.
Efendi (28), pemilik warkop yang menyediakan kopi dan camilan pisang srikaya ini mengatakan Festival Cap Go Meh merupakan moment berkah buatnya.
Warkop yang buka dari pagi hingga malam ini bisa untung tiga kali lipat jika ada kegiatan yang dipusatkan di daerah tersebut.
Jika setiap hari libur ia bisa menghabiskan 500 cangkir kopi, maka pada event tertentu termasuk Cap Go Meh ia bisa menjual hingga 2.000 cangkir kopi hingga tengah malam.
“Mau bagaiamana lagi kalau sudah itu aturannya. Saya dukung apapun yang terbaik. Tidak masalah jika ditiadakan, yang penting pemilu sukses dan damai,” ujarnya.
Komariah, pedagang sate yang yang bersebelahan dengan Bell Cafe juga bisa meraup keuntungan berlipat ganda jika ada Festival Cap Go Meh. Pemilik Warung Sate Ayam Sunda ini bisa meraup untung dua kali lipat dari hari biasa.
“Saya biasa buka dari pagi hingga siang saja, banyak juga pengunjung yang datang tiap tahunnya saat mereka melihat atraksi barongsai,” ungkap Komariah.
Namun, Komariah tetap tersenyum karena berkah Imlek sudah dirasakannya sejak beberapa hari lalu. Pesanan sate ayamnya laris manis menjelang Imlek.
Sekitar enam ribu tusuk sate telah dipesan menjelang makan besar di malam perayaan Imlek nanti. Ia pun masih membuka pesanan hingga satu hari sebelum Imlek.

.jpeg)

Komentar
Posting Komentar